Kamis, 30 Oktober 2014
KUE PERAPE
Kue tradisional berbentuk buah pare atau paria ini disebut kue perape. Kue asal Banjarmasin ini menggunakan tepung ketan sebagai bahan kulitnya dan diisi dengan unti yang terbuat dari kelapa parut dan dimasak dengan gula merah.
Bahan-bahan/bumbu-bumbu :
Bahan Kulit:
250 gram tepung ketan
1 sendok makan air kapur sirih
1/4 sendok teh garam
175 ml santan kental dari 1/2 butir kelapa
50 ml air daun suji (dari 30 lembar yang ditumbuk)
4 tetes pewarna hijau tua
Bahan Isi:
50 ml air
75 gram gula merah, disisir halus
15 gram gula pasir
100 gram kelapa setengah tua, dikupas, parut kasar
1 lembar daun pandan
1/8 sendok teh garam
Bahan Olesan:
50 ml santan kental (dari 100 gram)
1/8 sendok teh garam
Cara Pengolahan :
1. Kulit: aduk tepung ketan, air kapur, dan garam. Masukkan campur santan, air daun suji, dan pewarna. Uleni sampai rata.
2. Rebus air, gula merah, dan gula pasir. Saring.
3. Tambahkan kelapa, daun pandan, dan garam. Aduk sampai matang.
4. Ambil adonan kulit 1 sendok makan, pipihkan. Tambahkan isi, bentuk lonjong. Buat guratan-guratan hingga membentuk seperti paria.
5. Rebus bahan olesan sampai mendidih.
6. Oles bagian atas kue dengan santan. Alasi daun pisang. Kukus 10 menit. Sambil dibuka-buka tutup pancinya. Sebelum disajikan, oles lagi dengan santan.
sumber dari sini
download disini
disini
Rabu, 22 Oktober 2014
Gula Gait Khas Samarinda
Jajanan khas Samarinda yang wajib dicoba adalah Gula Gait. Gula Gait adalah makanan khas kalimantan yang terbuat dari Gulan Aren dan Gula putih semacam karamel dan dibentuk menyerupai tekstur kayu dengan warna keemasan. Rasanya menggoda di lidah karena manisnya yang sangat legit. Proses pembuatan Gula Gait hampir mirip dengan membuat Gulali namun di proses akhirnya yang membedakan . Proses pembuatan Gula Gait terbilang tidak mudah dan dibutuhkan waktu yang tidak sebentar serta tenaga yang ekstra untuk mengaduk dan menarik adonan hingga mendapatkan tekstur dan warna yang diinginkan.
Berikut ini Resep Gula Gait Khas Samarinda :
Bahan :
– ½ kg Gula Merah (gula aren)
– 1 ons Gula Putih (gula pasir)
Cara Membuat :
1. Kedua bahan tersebut dimasukkan kedalam panci atau wajan lalu dipanaskan hingga mengental sampai membentuk adonan.
2. Setelah itu adonan disalin ke teflon dan didinginkan, sebelum adonan mengeras dengan menggunakan kayu adonan dikaitkan pada paku besar yang telah ditancapkan pada dinding.
3. Adonan ditarik berulang kali sampai adonan kekuning – kuningan dan membentuk batangan – batangan yang memanjang dengan lebar kurang lebih 2 cm atau seukuran jari kelingking orang dewasa.
4. Selanjutnya dipindahkan ke atas meja panjang dan dibiarkan sampai mengeras, kemudian dipotong – potong sepanjang kurang lebih 5 – 6 cm menggunakan gunting.
Sumber : http://kuliner.grosirkeripik.com/manisnya-gula-gait-khas-samarinda/ download file docx disini
Senin, 13 Oktober 2014
HARGA KEMURIDAN
“No pain no gain“, barangkali Anda pernah mendengar semboyan
yang terkenal ini. Demikian juga, dalam mengikut Tuhan Yesus ada
semboyan, “tiada mahkota tanpa salib”, artinya tidak akan ada kemenangan
tanpa perjuangan dan pengorbanan. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa
barangsiapa ingin mengikuti Dia dan menjadi murid-Nya harus memutuskan
lebih dahulu apakah ia telah siap membayar harganya. Mengikut Tuhan Yesus tidak dapat dipisahkan dari memikul salib. Salib merupakan lambang penderitaan (1 Petrus.2:21; 4:13), kehinaan (Ibrani 12:2), serta penyangkalan diri (Matius 16:24).
Apabila kita telah siap mengikut Tuhan Yesus dan menjadi murid-Nya,
kita seharusnya siap menghadapi empat macam pergumulan dan penderitaan:
Pertama, menderita dalam perjuangan seumur hidup melawan dosa dengan menyalibkan semua keinginan untuk berbuat dosa (Roma.6:6-8; Galatia 2:19b-20; 6:14; Titus 2:12).
Kedua, menderita dalam peperangan terhadap Iblis dan kuasa kegelapan sewaktu kita memperluas Kerajaan Allah (2 Korintus 1:4-5; Efesus 6:12).
Ketiga, menanggung kebencian dan ejekan dari dunia ini (Ibrani 11:25-26) ketika kita berusaha memisahkan diri kita dari dunia yang bobrok ini.
Keempat, mungkin kita akan menerima ejekan dan penganiayaan dari pemimpin agama yang menganggap dirinya beribadah, namun tidak berpegang pada kebenaran firman Tuhan, melainkan hanya berdasarkan tradisi agama dan gagasan manusiawi yang sempit (bandingkan dengan Markus 8:15, 31).
Siapkah Anda menjadi seorang murid sejati? Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang sanggup membayar harga yang mahal seperti yang diminta oleh Tuhan Yesus jika tidak bersandar kepada-Nya. Hanya dengan bersandar kepada-Nya kita dapat menanggung semua itu (Filipi 4:13). Itu juga berarti bahwa kita tinggal di dalam Dia (Yohanes 15:5) , mengandalkan Dia, bukan bersandar kepada kepintaran diri sendiri (Amsal 3:5-6). [FL]
Filipi 1:29
“Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Krsitus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia”.
Pertama, menderita dalam perjuangan seumur hidup melawan dosa dengan menyalibkan semua keinginan untuk berbuat dosa (Roma.6:6-8; Galatia 2:19b-20; 6:14; Titus 2:12).
Kedua, menderita dalam peperangan terhadap Iblis dan kuasa kegelapan sewaktu kita memperluas Kerajaan Allah (2 Korintus 1:4-5; Efesus 6:12).
Ketiga, menanggung kebencian dan ejekan dari dunia ini (Ibrani 11:25-26) ketika kita berusaha memisahkan diri kita dari dunia yang bobrok ini.
Keempat, mungkin kita akan menerima ejekan dan penganiayaan dari pemimpin agama yang menganggap dirinya beribadah, namun tidak berpegang pada kebenaran firman Tuhan, melainkan hanya berdasarkan tradisi agama dan gagasan manusiawi yang sempit (bandingkan dengan Markus 8:15, 31).
Siapkah Anda menjadi seorang murid sejati? Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang sanggup membayar harga yang mahal seperti yang diminta oleh Tuhan Yesus jika tidak bersandar kepada-Nya. Hanya dengan bersandar kepada-Nya kita dapat menanggung semua itu (Filipi 4:13). Itu juga berarti bahwa kita tinggal di dalam Dia (Yohanes 15:5) , mengandalkan Dia, bukan bersandar kepada kepintaran diri sendiri (Amsal 3:5-6). [FL]
Filipi 1:29
“Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Krsitus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia”.
Langganan:
Komentar (Atom)


